Takaran Sukses Orang Asia

Kira-kira tahun 2014 lalu, AYAH EDY Parenting pernah memposting sebuah artikel yang temanya sebenarnya menyangkut masalah kreatifitas, tetapi dalam artikel tersebut ada salah satu point yang menarik, yaitu adalah kriteria sukses orang Asia. Berikut adalah kutipan dari artikelnya yang ingin saya soroti: 
"Bagi kebanyakan org Asia, dlm budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta thdp sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang utk memiliki kekayaan banyak."

Pengalaman, Traveling dan Networking

Kerjaan pertama saya di bidang IT membawa saya traveling antar Kecamatan di Bandung (ngirim barang) :-P. Kerjaan pertama saya di Software House membawa saya traveling Antar Kota dan Antar Propinsi di Indonesia (walaupun cuma sampai Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Timur).

Kerjaan saya kali ini membawa saya traveling sekitar ASEAN dan tetangganya (walaupun sewaktu wawancara dibilang kalo saya bakal stay di KL aja, gak perlu traveling kemana-mana).

Migrasi ke Micro Four Thirds

Perhatian: artikel ini bukan membandingkan gear mana yang lebih baik, tetapi lebih kearah sharing pola pikir kenapa sampai akhirnya saya memutuskan melepas sistem DSLR saya ke MFT.
Well, mungkin sebagian orang bakal merasa aneh kalo saya "pindah" dari DSLR (APS-C) ke Micro Four Thirds (MFT). Biasanya kalo sudah pake crop sensor, orang akan cenderung pindah ke "Full Frame (FF)", kok ini malah pindah ke sensor yang lebih kecil :D

Bagi saya, sebuah sistem itu bukan hanya "sensor". Saya tidak menampik bahwa sensor yang lebih besar itu menghasilkan kualitas gambar yang lebih baik. Tetapi jika berbicara masalah sistem, sebutlah kita akan membangun sistem yang ideal dengan FF, berapa banyak biaya yang harus kita keluarkan untuk membeli gear yang kita inginkan. Tentu saja hal ini akan lain jika anda menekuni photography secara profesional.

Integritas Dalam Pekerjaan (Bag. 2)

Melanjutkan artikel saya sebelumnya, beberapa minggu lalu saya menemukan artikel yang menurut penulisnya:
Someone can be happy at work, but not "engaged". They might be happy because they are lazy and it’s a job with not much to do. They might be happy talking to all their work-friends and enjoying the free cafeteria food. They might be happy to have a free company car. They might just be a happy person. But! Just because they’re happy doesn’t mean they are working hard on behalf of the company. They can be happy and unproductive.
Sebagian besar diri saya sangat menyetujui isi artikel tersebut karena fenomena ini sering kali saya liat di tempat kerja. Dari pengamatan saya, orang yang paling lama bertahan di perusahaan adalah orang yang "lurus-lurus" aja. Sebaliknya high-performer atau orang yang punya idealisme tinggi, rata-rata tidak bertahan lama. Mungkin karena mudahnya terjadi konflik ekspektasi orang-orang tersebut dengan ekspektasi perusahaan.

Integritas Dalam Pekerjaan (Bag. 1)

Sekitar tahun 2009 saya dan direktur perusahaan tempat saya bekerja pada saat itu berdiskusi tentang integritas dan loyalitas karyawan dalam pekerjaan. Pembicaraan ini terjadi karena naiknya gelombang "resign" dari karyawan yang merasa "tidak senang" bekerja di perusahaan tersebut.

Point yang saya tangkap dari pembicaraan waktu itu adalah, salah satu modal bekerja secara profesional itu adalah integritas. Integritas ini adalah ketika badan, pikiran dan usaha kita berada di tempat kerja kita. Ketika salah satu komponen ini tidak berada disana, berarti integritas kita sudah berkurang terhadap pekerjaan kita tersebut.