Upgrade ke Fedora 9, Akhirnya !!!

Setelah beberapa kali urung niat (baca: Upgrade ke Firefox 3 dan OpenOffice.org 2.4) pindah ke Fedora 9, gara-gara InfoLINUX ngasih bonus DVD Fedora 9 jadi ada kesempatan nyobain deh.

Sebelumnya saya pernah mendownload langsung DVD ISO Fedora 9. Hanya saya tidak bisa mencobanya di DVD-ROM saya karena setelah di-"bakar", entah DVD-RW nya yang bermasalah atau DVD-ROM saya yang error, namun sampai sekarang, saya tidak dapat membaca kepingan DVD yang bawahnya berwarna ungu. Lain dengan DVD bonus majalah atau DVD film yang bawahnya berwarna perak atau emas.

Waktu nyoba, mata saya langsung tertuju mengawasi proses booting dan mencari tulisan "hub 1-0:1.0: unable to enumerate USB device on port 1" karena masalah ini yang mengganggu saya jika upgrade ke kernel 2.6.25. Namun ternyata saya tidak menemukannya. Kernel standard bawaan Fedora 9 (2.6.25-14) mampu berjalan mulus di notebook saya. Tanpa pikir panjang, proses upgrade dari DVD pun dimulai. Kebetulan sistem Fedora 8 saya sebelumnya sudah up to date, sehingga proses upgrade ini tidak menimbulkan masalah yang berarti.

Proses upgrade memakan waktu lebih lama daripada clean install. Namun keuntungannya, kita tidak perlu melakukan konfigurasi apa-apa lagi. Setelah semua selesai, kita sudah mendapatkan sistem Fedora baru dengan paket aplikasi yang lebih up to date.

InfoLINUX (Agustus 2008) menyertakan bonus DVD distro Fedora 9 dan openSUSE 11. Namun saya lebih mencintai Fedora daripada distro Linux manapun. Kesan pertama bertemu dengan Linux dan yang selalu saya ingat adalah pertemuan dengan Redhat 7.2 yang fenomenal. Dan setelah masa Redhat 9, saya vakum (nggak ngulik Linux sama sekali :p) sampai dengan bertemu kembali dengan Fedora Core 5.
Hingga saat ini, yang membuat saya betah di Fedora adalah:
  1. Berawal dari Redhat dengan cita rasa Redhat.
  2. Paket manajemen yum yang professional (walaupun agak lambat dibanding apt).
  3. Adanya repository "presto" untuk menghemat bandwidth ketika melakukan update.
  4. Lingkungan yang optimal untuk software development.
Seluruh hardware dapat dikenali dengan baik, namun tentu saja selain webcam dan wireless. Kali ini saya menggunakan driver wireless madwifi dari repository livna (sudah ada yang mendukung Atheros AR5007EG) dan tetap mengggunakan driver webcam lama dengan sedikit modifikasi sourcenya agar resolusi maksimalnya dibuat 640x480 saja.