Cerita Boss 1 dan Boss 2

Mari kita anggap cerita fiktif ini sebagai wacana jika anda suatu saat ditakdirkan menjadi seorang pimpinan perusahaan.
Boss 1 kurang begitu dekat dengan karyawannya, beliau hanya dekat dengan orang-orang disekitarnya yang ada di level manajemen. Boss 2 cenderung lebih dekat dengan siapa saja di perusahaan, tetapi karena kharisma yang dimilikinya, Boss 2 jadi disegani oleh karyawan. Dan karyawannya sendiri yang merasa minder untuk dekat dengan Boss 2.

Boss 2 lebih aktif mendidik karyawannya dengan menceritakan pengalamannya menjadi orang besar dan gaya kepemimpinannya. Visi yang dimilikinya adalah menjadikan perusahaannya sebagai ladang penghasilan dan kesejahteraan untuk seluruh karyawannya.

Boss 1 cenderung tertutup, karyawannya mengetahui sejarahnya dari cerita orang-orang senior di perusahaan. Kesejahteraan karyawan bukan termasuk suatu hal yang mau dia pikirkan, yang penting bagaimana caranya perusahaannya itu bisa bertahan.
Boss 2 menganggap karyawannya sebagai asset. Bahkan ada yang pernah mendengarnya berkata "Kalau kamu perkuat posisi (perusahaan) saya, maka saya akan jamin dan perkuat posisi kamu" dan "Yang paling penting adalah loyalitas kamu di perusahaan" kepada salah seorang karyawannya di kantor.

Boss 1 begitu takut untuk membayar lebih karyawannya. Bahkan ketika salah seorang karyawan menginginkan jaminan atas kesejahteraannya, Boss 1 malah berkata "Kamu sepantasnya bersyukur masih bekerja di perusahaan ini, dimana perusahaan lain saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan PHK".

Ambisi Boss 2 adalah ingin menjadi konglomerat. Ingin memiliki wisma sendiri yang tingginya berpuluh-puluh lantai di metropolitan. Beliau sangat yakin atas kemampuan dirinya untuk mencapai segala keinginannya.

Seringkali Boss 2 berkata seperti ini pada karyawannya "Saya ini ingin jadi konglomerat, kalo gak jadi, saya tidak mau, tidak sudi... Kalian harus yakin itu!!! Apa yang saya inginkan selalu tercapai, ini adalah takdir saya. Jika saya sudah menjadi konglomerat nanti, kalianlah yang berada di sekitar saya. Kalian ini beruntung, karena pada saat posisi saya masih dibawah seperti ini, kalian adalah orang-orang yang dekat dengan saya."

Boss 1 selalu dibayangi ketakutan bahwa perusahaannya akan ambruk di kemudian hari. Kalimat yang keluar adalah "Kita adalah perusahaan berkembang, sehingga kita belum tahu kondisi kita beberapa tahun kedepan". Ini adalah alasan satu-satunya yang dikeluarkan jika ada salah satu karyawannya yang menginginkan status karyawan tetap di perusahaannya.

Boss 2 seringkali marah secara blak-blakan terhadap karyawannya yang melakukan kesalahan. Seringkali karyawannya dibuatnya nangis bahkan ketakutan setengah mati jika beliau sedang marah. Tetapi beliau sangat konsisten dan professional, setelah selesai melampiaskan kemarahannya, situasinya kembali normal.

Boss 1 memendam amarahnya terhadap karyawan. Jika salah satu karyawan melakukan kesalahan, Boss 1 cenderung diam dan tidak menegur karyawan tersebut. Namun pada akhirnya hanya cacatan kecil yang beliau keluarkan kepada bagian HRD di perusahaannya yang isinya kurang lebih bagaimana caranya agar kontrak karyawan tersebut tidak diperpanjang dikemudian hari.

Apa yang tertulis di artikel ini semoga menjadi wacana dan pelajaran yang berharga bagi kita semua. Walaupun cerita ini fiktif, namun tidak tertutup kemungkinan jika kondisi ini memang benar-benar terjadi.