Pindah Dari Cokelat ke Hijau Setelah Kecewa Dengan Biru

Menjelang pemilu legislatif, banyak yang sensitif membaca judul diatas. Judul ini saya gunakan di status Pidgin beberapa hari ini.

Sebenarnya hal ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan warna atribut partai. Warna yang disebutkan adalah warna ciri khas distro Linux. Cokelat untuk Ubuntu, Hijau untuk openSUSE dan Biru untuk Fedora.

Beberapa waktu ini saya sibuk mencari distro lain selain Ubuntu untuk laptop saya. Saya bertahan selama ini dengan distro tersebut karena hanya distro Ubuntu (dan turunannya) yang mampu mengenali seluruh peripherial yang terpasang di laptop saya dengan baik.

Kebetulan, dua bulan terakhir ini majalah InfoLINUX memberikan bonus distro Fedora 10 (Februari 2009) dan openSUSE 11.1 (Maret 2009). Sehingga keinginan saya untuk mencoba yang terbaru dan mendapatkan distro-distro tersebut terfasilitasi dengan mudah tanpa harus mendownload.

Saya terkesan dengan tampilan boot splash Fedora 10 yang luar biasa, namun saya mendadak kesal karena di Fedora 10 saya tidak bisa mengaktifkan CPU Frequency Scaling untuk processor Intel Celeron M. Ditambah dengan tidak stabilnya distro tersebut (di laptop saya) setelah saya melakukan update.


Namun setelah mencoba openSUSE 11.1, saya cukup puas karena seluruh peripheral dapat dikenali dengan baik, termasuk CPU Frequency Scaling untuk processor Intel Celeron M bisa aktif.

Untuk desktop, sebenarnya dari awal openSUSE sudah lekat dengan KDE (sama-sama made in German). Namun kabar baiknya, openSUSE juga menyediakan desktop GNOME yang sudah dibumbui dengan applet Slab yang menggantikan menu standard GNOME. Menurut saya, menggunakan applet ini merupakan pengalaman yang lain dan menarik.

openSUSE 11.1 menyediakan paket yang lebih lengkap dalam DVD installasinya. Ditambah bonus openSUSE 11.1 Extras dari InfoLINUX, seluruh aplikasi umum yang saya gunakan sehari-hari sudah langsung tersedia. Namun, untuk menonton TV, saya masih harus menggunakan repository luar untuk mendapatkan aplikasi TV-Time.

Saya juga penasaran untuk menjalankan game-game kecil dari GameHouse menggunakan paket Wine yang disertakan dalam DVD installasi openSUSE.

Dan hasilnya ternyata kebanyakan game-game tersebut bisa dijalankan diatas Wine. Karena paket Wine ini merupakan paket bawaan, sehingga tidak ada permasalahan konflik sound server pada Wine dengan pulseaudio.

Hal yang lebih menarik untuk developer, openSUSE 11.1 juga menyertakan versi alpha dari MySQL Workbench. Dengan menggunakan aplikasi ini, proses perancangan database MySQL bisa lebih cepat dilakukan. Bahkan, MySQL Workbench juga memiliki fasilitas Reverse Engineering untuk membaca diagram dari database yang sudah ada.

Kesimpulan akhir saya cukup puas dengan distro terbaru openSUSE. Beberapa "key features" yang saya suka adalah:

  1. Didukung dan disponsori oleh perusahaan besar (Novell).
  2. Tampilan grafis dan artwork yang indah, sehingga walaupun Compiz Fusion dimatikan, distro ini tetap "eye catching".
  3. Wallpaper berganti warna (seperti di Fedora 9) mengikuti waktu.
  4. Menggunakan deltarpm (seperti di Fedora) sehingga proses update sistem operasi lebih cepat.
  5. Dilengkapi tools untuk melakukan konfigurasi system yang lengkap dan sangat baik (YaST).

Jika sebelumnya Fedora 10 stabil dan kompatibel dengan peripherial yang saya miliki, mungkin saya akan memilih Fedora 10. Tapi sekarang akhirnya pilihan saya jatuh kepada openSUSE 11.1 karena dari pertimbangan segala sisi, distro ini adalah distro yang paling sesuai bagi saya saat ini.