Free Software = Junk Food?

Sekitar minggu lalu saya berkunjung ke sebuah blog dan menemukan sebuah artikel dengan judul "Gue Benci Linux". Saya sendiri menemukan blog tersebut karena ramai dibahas di milis ubuntu-id. Saya memilih untuk tidak memberikan komentar pada blog tersebut dan tidak me-refer link blog tersebut dalam artikel saya ini.

Salah satu point kritik yang dilontarkan oleh si penulis terhadap Linux kurang lebih isinya seperti ini. Linux itu gratis, tetapi gratis disini seperti memakan makanan dari tong sampah. Dia menyimpulkan gratis, tapi nggak enak.

Satu point kesalahan dari asumsi tersebut adalah, penulis mengartikan "free" dengan kata "gratis". Padahal sebenarnya yang dimaksud "free" disini adalah "freedom" atau "kebebasan".

Andaikata memang harus diibaratkan dengan makanan, menurut saya menggunakan Linux bukan berarti makan gratis saja, tapi anggap saja kita makan ditraktir oleh orang kaya. Masalah enak atau tidak itu selera, kalau saya pribadi pasti bilang enak karena sesuai dengan selera saya.

Lalu, bagaimana saya mengasumsikan bahwa kita ditraktir oleh orang kaya? Baik, akan coba saya jelaskan berikut ini.

Para pemain dunia open source dan free software adalah perusahaan-perusahaan besar seperti IBM, Sun Microsystem, Redhat, Novell, Canonical dan organisasi-organisasi non profit seperti FSF (Free Software Foundation), dsb. Mari kita sebut mereka ini adalah orang kaya, mereka memiliki kontribusi besar di bidang ini.

Lalu mereka dapat duit dari mana? Emang hari gene ada yang gratisan?

Kalo anda berpikir seperti itu, anda benar. Kita ambil contoh Sun Microsystem, kita tentu sudah tidak asing lagi dengan teknologi JAVA, MySQL dan VirtualBox. Walaupun tidak seluruhnya open source, tapi Sun memberikan seluruh teknologi ini dengan cuma-cuma. Tetapi, Sun juga sebenarnya membuat hardware server.

Apakah servernya gratis? tentu saja tidak. Mungkin Sun menjalankan pola bisnis seperti IBM dari dulu dimana IBM menganggap bahwa fokus bisnis mereka sebenarnya adalah terletak di machine (hardware), sedangkan software mereka anggap sebagai sarana untuk membantu menjual hardware yang mereka buat.

Lalu contoh lain Redhat dengan Fedora, walaupun Fedora dibagikan dengan gratis kepada komunitas, tetapi Redhat tetap menjual versi Redhat Enterprise Linux (RHEL) yang dikemas dengan layanan customer service dan purna jual. Padahal basis pengembangan dan teknologi Fedora dan RHEL itu sama saja.

RHEL dijual untuk orang kaya, dan Redhat mentraktir komunitas dengan memberikan Fedora secara gratis.