Pindah Ke Negara Yang Gak Ada UU ITE Yuk?!

Belum lama ini saya menerima sebuah ajakan di salah satu jejaring sosial yang intinya "Say No To [cencored]". Subjek adalah sebuah rumah sakit swasta internasional yang hangat diberitakan di berbagai media akhir-akhir ini.

Fokus saya dalam artikel ini adalah Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau kita kenal dengan UU ITE. Sejak kemunculannya UU ITE memang menuai kontroversi, terutama untuk praktisi IT. Namun jika dilihat kenyataannya pada saat ini, ternyata korban dari UU ITE ini justru bukan praktisi IT, tetapi seorang ibu rumah tangga yang tidak puas terhadap pelayanan rumah sakit tersebut.

Seingat saya, pasal yang mencantumkan tentang pencemaran nama baik, itu berkaitan dengan masalah publikasi secara umum. Dalam arti, jika kita dengan sengaja menyebarkan berita di media umum (misalnya di koran, dsb.) menjelek-jelekan seseorang atau badan usaha, itu bisa kena pasal tersebut.

Apakah yang dilakukan saudara kita ini sengaja menyebarkan informasi ini ke umum? Menurut keterangan, beliau hanya mengirimkan ke sepuluh rekannya saja. Jika rekannya ini yang menyebarkan, lalu siapa yang salah? Apakah teknologi email atau mailing listnya? :D. Ironis memang, justru hukuman terberat yang dijatuhkan kepada saudara kita ini berasal dari pasal pada UU ITE.

Saya memandang hal ini merupakan pembodohan publik. Kita menjadi dibuat takut terhadap pemanfaatan teknologi. Jangan-jangan suatu saat juga kita akan ditangkap gara-gara sebuah pesan di SMS. Ini sangat nonsense!

Untuk rumah sakit yang dimaksud, saya tidak tahu apakah sudah dilakukan langkah secara kekeluargaan sebelumnya, tapi menurut saya. Jika memang tuduhan itu tidak benar, kenapa harus risih?! Anggaplah itu sebagai bentuk suara konsumen yang bisa dijadikan masukan untuk memperbaiki kualitas pelayanan rumah sakit dikemudian hari.