Upgrade Ke Fedora 11

Beberapa waktu ini kesibukan saya di kantor meningkat, bahkan hampir tidak sempat 'menjenguk' blog dan layanan social network saya. Padahal banyak sekali hal yang ingin saya tuangkan di blog ini, termasuk pengalaman saya bermigrasi ke Fedora 11.

Seperti kebiasaan-kebiasaan saya sebelumnya, berikut ini saya akan laporkan pengalaman saya melakukan upgrade dari Fedora 10 ke Fedora 11.

Pendahuluan

Jika anda pengguna versi Fedora sebelumnya, anda saya sarankan untuk melakukan clean install daripada melakukan upgrade. Walaupun pada situs resminya disebutkan bahwa proses upgrade dari Fedora 10 ke Fedora 11 bisa dilakukan, namun berdasarkan analisa saya hal ini akan menjadi tidak optimal.

Alasannya, pertama adalah masalah file system. Jika anda melakukan clean install, anda dapat langsung mengaktifkan file system ext4 tanpa harus repot-repot melakukan konversi. Satu hal yang menarik lainnya adalah LVM (Logical Volume Manager) pada Fedora 11 dibuat seperti partisi RAID dengan dmraid. Dan hal ini berbeda dengan Fedora 10.

Kedua, dengan melakukan clean install, anda bisa membuktikan performa terbaik Fedora 11 anda. Saya sendiri ingin sekali membuktikan "20 Second Boot" yang digembar-gemborkan dari awal pengembangan Fedora 11. Dan hal ini tentunya akan sulit dibuktikan jika sistem anda sudah tidak clean lagi oleh banyaknya modifikasi konfigurasi yang anda lakukan sebelumnya.

Catatan Migrasi

Hal pertama yang saya lakukan setelah proses install Fedora 11 dari LiveCD, saya langsung memasang stopwatch untuk menghitung lama proses booting hingga masuk ke layar login. Dan ternyata tim Fedora 11 dapat memenuhi janjinya dengan membuktikan bahwa proses booting ini hanya memakan waktu sekitar 20 detik (30 detik jika anda mengaktifkan service httpd, mysql dan wine pada chkconfig).

Kedua, saya sudah menunggu begitu lama untuk mencicipi DRI2 pada onboard VGA Intel 945 di notebook saya. Dan hasilnya, ternyata tidak mengecewakan walaupun performanya menurun drastis.


Jendela glxgears dapat berputar mengikuti cube (Compiz) di onboard VGA Intel 945. Namun demikian saya tidak terlalu membutuhkan 3D dalam ruang lingkup pekerjaan saya, jadi hal ini tidak terlalu terlalu saya permasalahkan. Saya segera mematikan Compiz setelah melakukan uji coba ini.

Tidak lupa saya segera melakukan konfigurasi yum repositories ke mirror lokal dan mencoba melakukan update system. Ternyata benar, bahwa saat ini repository Fedora 11 sudah secara default menyediakan presto repositories. Tapi jika anda menginstall Fedora 11 dari LiveCD, anda harus menginstall plugin yum-presto terlebih dahulu.

Presto dapat secara signifikan menghemat bandwidth anda ketika mengupdate system karena presto hanya mendownload perbedaan paket lama dengan paket baru yang terpasang pada system anda.

Perubahan lainnya yang cukup signifikan dari Fedora 11 adalah Mixer yang default digunakan kali ini bukan lagi ALSA Mixer, tetapi sudah langsung menggunakan PulseAudio Mixer yang sebenarnya lebih mereporkan. Saya sampai saat ini sering kali mengalami kasus yang aneh karena kadang-kadang volume suara berubah-rubah sendiri.

Dukungan Hardware

Jika anda pengguna wireless adapter Atheros dengan driver MadWifi, anda harus sedikit kecewa karena direlease Fedora 11 ini rpmfusion hingga tulisan ini dibuat belum menyediakan paket kmod-madwifi. Namun demikian sebenarnya kernel module ath5k standard bawaan Fedora 11 sudah dapat menjalankan tugasnya dengan baik, hanya saja masih saya menginginkan driver MadWifi karena lampu indikator WiFi nya bisa diaktifkan :p. Jadi solusinya compile driver sendiri dan blacklist kernel module ath5k.

Webcam microdia di laptop saya berfungsi dengan baik dengan menggunakan driver terbaru dari group microdia. Bahkan resolusi maksimal 1280x1024 (1.3 MP) bisa tercapai dengan menggunakan aplikasi Cheese.


Pengembang kernel module microdia menyertakan script untuk membungkus module ini kedalam akmods. Sehingga anda tidak perlu melakukan compile ulang module secara manual setelah anda mengupgrade kernel anda.

Untuk TV-Tuner Gadmei UTV-330+ yang saya miliki, saya agak kesulitan mencari drivernya. Pengembang drivernya menutup sementara akses ke source driver ini karena sedang dilakukan proses refactoring. Dan karena dia juga ternyata orang sibuk, jadinya kemungkinan ketersediaan driver ini kembali akan cukup lama.

Beruntung saya menemukan driver terakhirnya di komunitas Arch Linux beserta patch yang diperlukan agar driver ini bisa dicompile di kernel 2.6.29.x sampai kernel 2.6.30.x.


Stabilitas Sistem

Jujur, sampe tulisan ini dibuat sistem saya masih belum stabil. Paling parah notebook saya sampai mati sendiri beberapa kali secara tiba-tiba ketika saya sedang bekerja. Setelah dianalisa, ternyata permasalahannya berasal dari suhu processor.

Notebook saya menggunakan processor Intel Celeron dan mainboardnya memiliki mekanisme proteksi jika suhu processor overheat, maka mainboard akan melakukan shutdown paksa. Saya menganalisa hal ini dengan memeriksa suhu fisik processor yang saya rasakan tidak wajar.

Setelah kejadian ini berulang kali, akhirnya saya buka casing penutup processor dan saya biarkan hingga suhunya menurun. Baru setelah itu saya coba nyalakan kembali notebook saya dan ternyata tidak masalah.

Saya mengakali situasi ini dengan mengaktifkan processor frequency scaling untuk processor Intel Celeron yang akhirnya bisa digunakan di Fedora 11 (pada Fedora 10 hal ini tidak dapat dilakukan). Saya sendiri masih mencari penyebab pasti kenapa CPU bisa sampai overheat di Fedora 11. Jika dipantau menggunakan aplikasi powertop, memang kernel Fedora 11 sendiri yang membebani CPU tertinggi.

Kesimpulan Umum

Untuk saya pribadi, saya cukup puas menggunakan Fedora 11. Walaupun ada beberapa kekhawatiran yang saya temukan seperti kasus-kasus diatas. Tapi saya yakin bahwa didunia open source segala bug dan fixes bisa ditemukan dan diperbaiki dengan cepat.