Bahayakah Perilaku Membuat Pola?

Saat ini serial BONES yang diputar di FOX Channel, merupakan salah satu sinetron (versi bule) yang rutin saya tonton mulai dari Season 3.

Untungnya BONES Season 4 (S4) mulai lebih awal daripada HEROES dan Smallville. Jadi tidak terlalu banyak waktu yang terbuang untuk menonton TV disela-sela kesibukan sehari-hari.

Alasan saya sangat menyukai "Crime Drama" ini adalah karakter setiap pemainnya sangat kuat.

Saya tidak akan membahas para pemain dari serial tersebut, silahkan anda googling sendiri jika anda ingin tahu :D.

Hal yang menarik adalah dalam salah satu episode di S4, terdapat satu kasus pembunuhan karakter pembunuhnya meninggalkan pola tertentu. Dari faktor psikologis, dalam hal apapun di kehidupannya sehari-hari, pembunuh tersebut juga selalu mengikuti pola tertentu.

Sebagai contoh memberi nama anak sepanjang 12 karakter, menata letak batu di taman sebanyak 12 buah, menanam tanaman dalam pot sebanyak 12 buah, termasuk yang paling mengerikan memutilasi korbannya menjadi 12 bagian X-(.

Baik disadari atau tidak, kita pun (atau mungkin cuma saya :p) seringkali membuat pola. Tapi bedanya biasanya pola yang saya buat tidak selalu harus berjumlah tertentu, terkadang saya hanya menyesuaikan sesuatu agar lebih enak dilihat atau berdampak lebih positif terhadap faktor psikologis saya.

Contoh yang saya alami (kalau ada ahli psikologis silahkan menilai apakah saya ini normal atau tidak :p), saya tidak terbiasa dengan sesuatu yang tidak simetris misalnya tata letak speaker desktop, saya terkadang menggenapkan aplikasi yang saya install pada ponsel saya supaya seluruh kolom dan barisnya terisi penuh, saya sedikit terganggu dengan goresan pada casing belakang ponsel saya, tetapi lega setelah casing bagian depan ikut tergores juga (yang ini pun saya merasa aneh, tapi itulah yang terjadi :p).

Tentunya contoh diatas merupakan contoh yang agak menyimpang :D tapi dalam pekerjaan, "kelainan" ini pun bisa saya arahkan untuk sesuatu yang positif, misalnya saya memiliki ciri khas (pola) tertentu dalam melakukan install PC dan memasang jaringan. Ketika pola ini sudah saya yakini yang terbaik, saya bisa membuat SOP (Standard Operational Procedure) atau IK (Instruksi Kerja) untuk tim saya, agar mereka juga menerapkan pola tersebut.

Yang paling mengganggu menurut saya adalah kasus dalam contoh menyimpang yang terakhir (masalah casing). Sebenarnya itu juga merupakan satu kondisi dimana ketika saya memiliki sesuatu yang sempurna, saya tidak mau itu menjadi tidak sempurna (tadinya casingnya mulus, kemudian tergores). Tapi kemudian ketika sesuatu menimpa yang tidak sempurna menjadi sempurna, saya bisa lebih menerima kondisi tersebut (dalam hal ini ketidak sempurnaan itu menjadi sempurna karena casing tergores secara simetris).

Nah, pertanyaannya apakah perilaku seperti ini berbahaya?