Produktifitas Yang Menurun

Perlu diakui ada yang salah dengan photo saya ini! Dulu waktu masih mahasiswa, tampang saya seperti ini keluar setelah begadang lima hari mengerjakan software parkir sebagai project pertama saya dengan bahasa pemrograman Borland Delphi.

Sekarang, ini adalah tampang saya setelah tiga hari malas-malasan gara-gara dapet libur long week-end. Apa ini tandanya produktifitas saya sudah menurun?!

Sebelum mencapai kesimpulan, berbicara mengenai produktifitas, selama tahun 2009-2010, saya hanya sukses merilis dua project software. Bagi saya, ini merupakan bencana karena menurut takaran saya, ini merupakan kondisi yang tidak produktif.

Di perusahaan tempat kerja saya sekarang, selama dua tahun saya bekerja, dua tahun berturut-turut, saya tidak terpilih menjadi karyawan terbaik (atau mungkin teladan :p). Masih mending di perusahaan lama, setidaknya walau pun saya tidak terpilih, namun saya tetap bisa masuk sebagai nominasi :D Tapi saya sadari bahwa itulah resiko bekerja di perusahaan yang tidak ada kaitannya dengan bidang pekerjaan kita.

IT bagi perusahaan Non-IT merupakan support system yang berada diluar core business perusahaan. Terkadang keberadaan kita disepelekan. Seperti halnya sparepart kendaraan, kita tidak akan sadar betapa pentingnya sebuah komponen, sebelum komponen kendaraan tersebut rusak.

Yang ingin saya soroti dalam point ini adalah, berprestasi atau tidak seseorang, bukan hanya ditentukan dari apakah orang tersebut ahli atau tidak dalam pekerjaannya, tetapi apakah juga perusahaan memberikan kesempatan untuk individu tersebut berprestasi!

Dalam standarisasi sistem manajemen mutu ada persyaratan wajib yang disebut KPI (Key Performance Indicator) yang merupakan tolak ukur keberhasilan kinerja sebuah departemen atau seorang karyawan. KPI ini harus memiliki kriteria SMART (Specific, Measurable, Attainable (Achievable), Relevant (Realistic) dan Time-bound (Time Limited)).

Dengan adanya KPI, kinerja departemen atau seseorang dapat terukur sesuai dengan bidang kerja dan keahliannya masing-masing. Bisa saja seorang Office Boy (OB) yang berada dibawah departemen umum lebih berprestasi dari seorang manager di bagian pengadaan karena keduanya diberikan penilaian secara objektif. Penilaian kinerjanya diambil berdasarkan target dan pencapaian yang dipaparkan dalam KPI tersebut.

Sayangnya, tidak seperti implementasi software, implementasi sistem manajemen mutu di perusahaan merupakan tantangan yang cukup berat dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Implementasi software diawali dari analisa prosedur yang sudah baku yang kemudian diberi batasan dengan sistem komputer. Sedangkan implementasi sistem manajemen mutu, lebih dititikberatkan pada penyusunan bentuk (manual) prosedur baku itu sendiri.

Seseorang yang diberi kepercayaan untuk melakukan implementasi manajemen mutu di perusahaan, setidaknya harus dibekali dengan titah untuk melakukan perombakan karyawan, termasuk perekrutan dan pemecatan. Karena jika tidak, ketika kondisi ini menjadi penghambat dalam proses implementasi, hal ini diibaratkan sebuah roda gigi dalam jam tangan kita yang salah satunya tidak berputar dan mengakibatkan seluruh sistem menjadi tidak berjalan.

Jujur saja, hal ini merupakan faktor eksternal yang menjadi penghambat produktifitas saya di kantor. Kita sebagai software engineer, perlu sebuah aturan main (prosedur baku) terlebih dahulu dalam suatu sistem manual yang sudah berjalan sebelum kita menentukan, bagian mananya yang akan kita batasi dengan sistem komputer. Ketika prosedur baku ini belum menjadi baku, tentunya ini menjadi masalah besar karena kalaupun kita paksakan untuk menyusun sistem dari kondisi ini, akan banyak sekali perombakan yang dilakukan setelahnya.

Belum lagi masalah non teknis seperti kondisi psikologis saya yang terkadang jenuh berada dalam suatu kondisi yang tidak berubah dalam waktu yang terlalu lama. Semoga saja situasi ini tidak berlarut-larut karena tentunya sebagai manusia, kita memiliki rasa bosan dan tingkat kesabaran yang berbeda. Terkadang pekerjaan itu bukan hanya sisi salary yang menjadi pertimbangan, tetapi juga suasana kerja dan komitmen perusahaan untuk maju dan memajukan karyawannya.