Bukan Masalah Komersil, Tapi Monopoli!

Hari ini ada artikel menarik di detikInet, mengenai pernyataan resmi Nokia menggandeng Microsoft untuk OS Windows Phone 7. Bahkan dalam official blog nya, peresmian kerjasama jangka panjang ini sengaja mengambil momen pada hari ini: Jumat, 11 Februari 2011 (11.2.11) untuk menciptakan ekosistem baru yang dapat menguatkan posisi kedua belah pihak di kancah platform untuk smartphone. Entah makna apa yang mereka pikirkan untuk mengambil tanggalan tersebut :p

Bagi saya, adanya berita ini merupakan hal menarik yang terjadi di dunia gadget khususnya smartphone. Ditengah rasa bosan dalam pemberitaan mengenai perperangan platform yang didominasi oleh OS Android saat ini, akhirnya kita disuguhkan satu platform lain yang cukup menarik.

Hingga tulisan ini dibuat, selain iOS, saya telah mencoba beberapa platform smartphone mulai dari Windows Phone, BlackBerry, Android dan Symbian. Dan selama saya menggunakan smartphone, justru OS Symbian inilah yang saya coba belakangan. Alasannya cukup sederhana, saya tidak pernah mampu membeli ponsel dengan OS Symbian ketika saya kuliah, jadi baru sekarang saya bisa memiliki kesempatan menggunakan OS Symbian di Nokia C6-00 yang saya peroleh dengan menukar BlackBerry Bold 9650 (Essex) saya.

Di masa jaya OS Symbian, anda tentu masih ingat berapa harga perangkat Symbian disaat pertama kali diluncurkan ke pasaran. Saya ingat harga Nokia 9500 Communicator yang harganya hampir mencapai sepuluh juta rupiah pada saat itu. Teman saya di kampus pada saat itu membeli sebuah Nokia 6670 dengan harga empat jutaan. Padahal dengan uang segitu, saat ini kita bisa memperoleh smartphone Android kelas menengah. Bagaimanapun juga, ini adalah pengaruh monopoli dalam perdagangan, karena tanpa adanya saingan, vendor bisa mematok harga seenaknya untuk menjual produknya.

Saat ini platform Android telah mendominasi seluruh vendor smartphone canggih. Dapat disimpulkan bahwa dengan memiliki OS yang sama, artinya seluruh kemampuan software smartphone tersebut hampir sama. Perbedaan yang signifikan dalam hal ini adalah hardware smartphone itu sendiri. Vendor saat ini bersaing dalam hal perangkatnya, bukan sistem operasinya. Entah ini merupakan suatu hal yang positif atau tidak, tetapi keseragaman membuat hal ini menjadi membosankan. Setidaknya bagi saya :p

Selain dari pada itu, platform yang terbuka seperti Android, tanpa adanya biaya lisensi, tidak menjamin harga perangkatnya menjadi lebih murah. Setidaknya itu yang terjadi di Indonesia karena tidak seperti operator besar di luar negeri yang menawarkan opsi pembelian perangkat dengan sistem kontrak berlangganan operator tersebut sehingga harga perangkatnya menjadi lebih murah, di Indonesia dengan harga berlangganan pun (seperti iPhone dengan salah satu operator di Indonesia), harga perangkatnya tetap mahal :(

Saya memperoleh Nokia C6-00 dengan harga yang sama dengan sebuah BlackBerry Curve 8520 (Gemini) atau Samsung GT-i5700 (Galaxy Spica) pada saat itu. Lantas pertimbangan apa yang menjadikan smartphone dengan platform kuno itu menjadi pilihan saya? Mungkin jika dijabarkan, beberapa alasan/pemikiran saya adalah seperti ini:
  1. Harga yang relatif murah dengan segudang fitur yang menarik seperti contohnya dukungan HSDPA (3.5G) dan kamera internal 5 Mega Pixels. Dari kubu Android ataupun BlackBerry dengan fitur serupa harga jualnya di Indonesia dipatok hampir dua kali dari harga Nokia C6-00.
  2. Daya tahan baterai, walaupun tidak terlalu spektakuler, namun setidaknya saya hanya melakukan charge satu kali sehari dibandingkan dengan ketika saya menggunakan BlackBerry Bold 9650 dan Samsung Galaxy Spica GT-i5700 yang rata-rata dengan pemakaian aktif baterainya hanya bertahan setengah hari.
  3. Bosan dengan Android dan BlackBerry :p Jujur, saya jenuh dengan "Trend Latah" baik vendor maupun end-user terhadap platform tersebut khususnya Android. Paling menjengkelkan lagi vendor berlomba-lomba mempersenjatai produknya dengan teknologi canggih (tentu berdampak ke harga jual yang tinggi) seperti misalnya dual core cpu dalam sebuah smartphone yang fungsi dasarnya sudah membias. Mau bikin Smartphone atau Tablet PC sih?! Apa kita perlu resource sebesar itu dalam aktifitas kita ber-mobile?! :D
  4. Saya tidak pernah menjadikan platform sebagai pertimbangan pilihan, saya berpatok pada kebutuhan dasar saya. Dan dalam hal ini, dengan perangkat yang tidak terlalu mahal pun sebenarnya kebutuhan saya sudah terpenuhi.
Selain dari empat alasan tersebut, tentunya saya masih memiliki banyak pertimbangan lainnya. Namun satu hal yang ingin saya soroti adalah bagaimanapun juga praktek monopoli dalam hal apapun akan berdampak tidak baik. Walaupun tanpa bermaksud memonopoli, platform Android telah mendominasi pasar smartphone dunia dan kita pada akhirnya dimonopoli oleh pasar tersebut.

Adanya keberagaman baik dari platform atau produk, tentunya akan berdampak positif untuk konsumen. Contohnya tarif operator telepon, dengan banyaknya operator yang beroperasi saat ini, konsumen diuntungkan dengan promo-promo tarif yang murah untuk komunikasi. Dengan banyaknya platform dan vendor smartphone, keuntungan yang bisa kita peroleh tentunya harga yang kompetitif.

Rekan-rekan saya dulu menganggap saya membenci Microsoft karena terlalu komersil, padahal alasan saya tidak suka pada saat itu adalah faktor monopoli raksasa software tersebut khususnya di Indonesia. Mulai dari sejak kita mengenal komputer di bangku sekolah, kita sudah dijejali produk tersebut hingga sekarang.

Setelah saya beralih ke GNU/Linux (Linux), saya menggunakan OS Ubuntu. Ketika merasakan keseragaman pengguna Linux di Indonesia yang kebanyakan menggunakan Ubuntu, saya mulai melirik Fedora dan yang lainnya. Keseragaman platform berdampak pada ketergantungan, karena ketika semua mengerucut menjadi satu, kita menjadi disudutkan terhadap satu pilihan, hal inilah yang saya tidak suka.

Kernel Android, merupakan modifikasi dari Kernel Linux. Jika Android bisa dianggap sebagai salah satu distribusi Linux untuk platform mobile, saya lebih berharap adanya platform lain atau turunan dari Android itu sendiri untuk alternatif pilihan kita.

Hadirnya Maemo dan MeeGo saya kira tadinya akan menjadi alternatif pilihan yang baik. Saya melihat Maemo lebih menarik karena platform ini lebih dekat dengan Linux yang biasa kita gunakan. Bahkan aplikasi dan game untuk platform ini, sama persis dengan yang kita mainkan di desktop Linux kita, salah satu contohnya adalah SuperTux.

Kesimpulan dari apa yang saya tuangkan kali ini adalah seperti pada judul, pada akhirnya saat ini saya tidak lagi mempermasalahkan masalah komersialisasi perangkat lunak atau platform. Semua kembali ke kebutuhan dasar dan tujuan kita dalam memilih produk-produk tersebut. Satu hal yang pasti saya tidak suka adalah keseragaman dan praktek monopoli dalam hal apapun termasuk platform dan produk itu tadi.