Ubuntu 12.10: Ilmu Yang Mahal

Ya, judul artikel ini memang benar, setidaknya bagi saya. Memasang Ubuntu 12.10 (x86_64) pada laptop saya ini memang mahal dan penuh pengorbanan :p

Bermula ketika saya memutuskan untuk merombak laptop saya yang memiliki OS bawaan Windows Vista (32 bit) karena sudah mulai terasa kuno dan lambat. Laptop ini terbilang udzur bahkan setelah semua komponennya diupgrade hingga maksimal sekalipun. RAM sudah diupgrade jadi 4 GB (maksimal yang tersedia saat ini untuk tipe DDR 2) dan hardisk bawaannya pun sudah dilipat gandakan kapasitasnya dari 250 GB ke 500 GB.
Saya sempat tergiur dengan penawaran Microsoft untuk upgrade ke Windows 8 (dari Windows Vista) dengan harga kurang dari 40 USD, namun setelah dipikir-pikir, tetap saja saya cuma memperoleh sistem operasi yang 32 bit dan RAM saya tidak bisa digunakan secara maksimal. Sampai akhirnya situasi ini saya jadikan momentum yang tepat untuk kembali ke jalan yang benar (baca: Menggunakan Linux) seperti pada tahun 2008 lalu.

Hari pertama, proses installasi Ubuntu 12.10 pada Laptop HP Pavilion DV3629TX ini tidak ditemukan kendala yang berarti. Walaupun chipset yang digunakan merupakan produk Intel, namun VGA bawaan   menggunakan chipset NVidia. Saya pun menemukan masalah yang umum ditemukan pada chipset VGA ini yaitu seputar backlight yang tidak bisa dikontrol dari Function Key. Sudah ada trick untuk mengakali masalah ini, yaitu dengan menggunakan kernel modul nvidiabl dan menambahkan quirk untuk laptop saya.

Hari kedua, saya melakukan update dan upgrade seluruh paket yang terpasang dan membiarkan laptop saya menyala (dalam ruangan AC) seharian penuh. Dan dihari kedua ini, saya pun tidak memiliki masalah yang berarti.

Masalah serius kemudian muncul di hari ketiga, setelah sebelumnya saya memutar film lama, tiba-tiba laptop saya mati. Dan ketika saya coba untuk menyalakan kembali, hanya sekian detik menyala, kemudian mati lagi. Tentu saja saya langsung curiga dengan masalah overheat pada processor. Saya pun berasumsi karena laptop ini merupakan laptop lama, kipas processor pastinya sudah terhambat oleh debu. 

Pekerjaan melelahkan ini pun akhirnya saya lakukan, yaitu membongkar laptop! Yang paling menyebalkan adalah untuk seri laptop ini, posisi kipas dan heatsink processor berada pada bagian bawah mainboard. Artinya setelah membuka casing, mengangkat keyboard. melepas layar dan mengangkat mainboard, barulah kipas processor bisa diakses. Sekalian saja saya ganti thermal pad dengan thermal paste karena thermal pad langsung rusak ketika kita mengangkat heatsink processor.

Setelah semua dipasang dan dipastikan laptop kembali beroperasi, akhirnya saya coba browsing masalah overheating dan saya menemukan artikel yang mengaitkan masalah tersebut dengan Ubuntu 12.10. Ternyata selain saya, banyak user yang memiliki masalah serupa di laptopnya. Ubuntu 12.10 memang menyebabkan suhu processor lebih tinggi (bahkan dengan update terbaru). 

Hal ini disebabkan oleh metode Ubuntu 12.10 mengatur kipas processor untuk menghindari suara bising. Karena lambat dalam melakukan "throttle" pada kipas, makanya suhu processor terlanjur naik. Cara untuk memperbaiki jika anda terkena masalah ini sebenarnya cukup mudah, yaitu hanya menambahkan kernel parameter "thermal.off=1" yang fungsinya mematikan fungsi monitor suhu lewat acpi (bukan cpu, yang ini kaitannya dengan pengaruran kipas) sehingga menyerahkan pengaturan kipas kembali ke BIOS. Tentunya BIOS merespon lebih cepat dalam mengatur kipas processor dan menjaga suhu lebih baik.

Huh, ilmu ini memang mahal, harus ditebus dengan mengorbankan waktu untuk membongkar pasang laptop dengan segala resiko kerusakan permanen seandainya terjadi kecerobohan dalam proses tersebut. Tetapi yang pasti semua itu pada akhirnya sepadan dengan yang didapat ...