Mengubah Cemburu Jadi Motivasi

Sebelum saya bercerita lebih lanjut, artikel ini bukan arikel dunia cinta ya?! Tapi dunia kerja :D Pembahasan yang saya angkat kali ini berkaitan dengan kecemburuan diantara rekan kerja atau antar tim dan bagaimana menurut pandangan saya kita bisa mengubah perasaan itu menjadi motivasi dalam bekerja.

Dalam sebuah rapat tahunan di kantor, ketika masuk dalam pembahasan penghargaan bagi karyawan, sampai akhirnya kita pada bagian review tentang bagaimana pendapat para karyawan tentang penghargaan kantor bagi karyawan berprestasi pada tahun sebelumnya, yaitu pemberian hadiah berupa sebuah iPad untuk 20 orang karyawan yang berprestasi.

Ketika itu banyak ungkapan dari "barisan sakit hati" :D yang mengemukakan bahwa sistem yang digunakan perusahaan untuk menentukan karyawan mana yang berhak dan tidak berhak memperoleh iPad tersebut belum sepenuhnya adil. Disaat ada salah satu tim yang hampir semua anggota timnya memperoleh iPad, ada tim lain yang malah tidak ada satu pun anggota timnya yang memperoleh iPad tersebut. Dan pada akhirnya sebagian orang berpikir bahwa ini bukanlah sebuah ajang penghargaan (reward), tetapi sebagai ajang penghukuman (punishment).

Sebelum saya bergabung dengan perusahaan ini, dalam wawancara bersama dengan direktur, saya ditunjukan berbagai grafik tentang Key Performance Indicator (KPI). Saya langsung berfikir bahwa dengan adanya grafik tersebut, artinya penerapan sistem penilaian kinerja karyawan di perusahaan ini sudah lama berjalan.

Tetapi dalam kenyataannya mungkin belum sepenuhnya berjalan atau sasarannya belum tepat. Bahkan dalam dialog dengan salah satu karyawan lokal (asli Malaysia), sampai terdengar ungkapan yang secara kasarnya: "Siapa saja yang mahir menjilat atasan (manajemen), disini pasti bisa bertahan ...".

Dalam kasus diatas, saya menyimpulkan bahwa KPI ini scope nya terlalu besar, yaitu seluruh karyawan di perusahaan. Dengan skema ini tentu saja sangat memungkinkan terjadi "pemenang" kemungkinan 4L (Loe Lagi Loe Lagi) ^_^. Orang-orang lingkaran 1 (dekat dengan top management) punya kesempatan lebih baik dibandingkan dengan yang lain.

Seandainya 20 iPad tersebut didistribusikan, misalnya ada 10 tim di perusahaan dan dibagi 2 iPad per tim. Dalam tim ditentukan siapa 2 terbaik untuk memperoleh iPad tersebut menurut saya akan mengurangi kecemburuan diantara karyawan. Jika ada tim yang semua anggotanya memperoleh iPad sedangkan ada tim lain yang anggotanya tidak memperoleh sama sekali tentu akan ada yang bertanya, memang apa yang menjadikan mereka lebih berhak daripada tim tersebut? Dan karena penilaiannya tidak diketahui oleh kita semua tentu akan menjadi tandatanya besar apakah memang kinerja mereka sebagus itu?

Tetapi jika skalanya dalam tim, saya yakin setidaknya didalam tim, kita sangat mengenal anggota kita. Mana yang memang kita nilai kinerjanya sangat baik dan kurang baik akan mudah terlihat diantara sesama anggota tim. Menurut saya lebih mudah mengukur semua itu dalam skala tim. Apalagi jika dibuat skala seperti multi-level, misalnya: skala tim, team lead, manajer (yang dinilai sama bawahannya) dan kemudian karyawan terbaik (versi direksi), tentu akan lebih memotivasi setiap karyawan di perusahaan.